BAB II
ISI
1. Tekanan
Tekanan atau stres
menyangkut masalah keras
lemah nya bunyi.
Suatu bunyi segmental
yang diucapkan dengan arus
udara yang kuat sehingga
menyebabkan amplitudonya
menyebar, pasti diberangi
dengan tekanan keras.
Sebaliknya,sebuah bunyi
segmental yang diucapkan
dengan arus udara yang tidak
kuat, sehingga amplitudonya
menyempit pasti di seberangi
dengan tekanan lunak.
Tekanan ini mungkin
terjadi secara sporadis;
migkin juga telah
berpola,mungkin juga
bersifat disningtif artinya
dapat membedakan makna
tapi juga bisa tidak. Dalam
bahasa indonesia tekanan
dapat membedakan makna.
2. Nada
Nada atau pitch berkenaan
dangan tinggi rendahnya
suatu bunyi. Bila suatu bunyi
segmental diucapkan dengan
frekuensi getaran yang tinggi,
tentu akan disertai nada yang
tingggi
.Sebaliknya,bila suatu
bunyi segmental diucapkan
dengan frekuensi getaran
yang rendah, maka nada
yang menyertanya akan
rendah.
Dalam bahasa tradisional
Thai dan bahasa Vietnam
nada bersifat fonemis,
artinya dapat membedakan
makna kata. Dalam bahasa
Tonal,biasanya dikenal ada
lima macam nada, yaitu:
a) Nada naik atau
nada meninggi yang
biasanya diberi tanda
garis ke atas ( )
b) Nada datar yang
biasanya diberi tanda
garis lurus mendatar ( ͞
).
c) Nada turun atau
merendah yang
biasanya diberi tanda
garis menurun ( ).
d) Nada turun naik
yakni nada yang
merendah lalu
meninggi. Biasanya
diberi tanda garis
sebagai (۷ ).
e) Nada naik turun
yaitu nada yang
biasanya meninggi
lalu merendah
biasanya diberi tanda
garis (۸ ).
2
Sama dengan tekanan,dalam bahasa
indonesia nada juga tidak
“bekerja”pada tingkat sintaksis, karena
dapat membedakan makna kalimat.
Variasi nada yang mfnyertai
unsur segmental dalam kalimat disebut
intonasi, yang biasanya dibedakan
menjadi empat yaitu:
a) Nada rendah, di tandai
dengan angka 1
b) Nada sedang, ditandai
dengan angka 2
c) Nada tinggi, ditandai
dengan angka 4
3. Jeda atau Persendian
Jeda atau perhentian
berkenaan dengan hentian
bunyi arus dalam arus
ujaran. Disebut jeda karena
adanya perhentian itu, diebut
persendian karena di tempat
perhentian itulah terjadinya
sambungan antara dua
segmen ujaran.
Jeda ini dapat bersifat
penuh atau bersifat
sementara, buiasanya
dibedakan adanya sendi
dalam( internal juncture ) dan
senda luar (open juncture).
Sendi dalam menunjukan
batas antara atu silabel
dengan silabel lainnya.
Silabel dalam ini menjasi
batas silabel biasanya
ditansai sengan tanda (+).
Contoh:
[am+bil]
[lak+sa+na]
[ke+le+la+war]
Sendi luar menunjuklan
batas yang lebih besar dari
silabel.Dalam hal ini
biasanya dibedakan adanya:
a. Jeda antar kata
dalam frase,ditandai
dengan garis miring
tunggal ( / )
b. Jeda antarfrase
dalam klausa,ditandai
dengan garis miring
ganda ( // )
c. Jeda antarkalimat
dalam wacana/
paragraf,ditandai
dengan garis silang
ganda ( # )
3
Tekanan dan jeda dalam
bahasa indonesia sangat
penting karena tekanan
dan jeda itu dapat merbah
makna kalimat. Contoh:
#buku//sejarah/
baru#
#buku/sejarah//
baru#
Kalimat pertama
bermakna ‘buku
mengenai sejarah
buku’;sedangkan kalimat
kedua bermakna ‘buku
baru mengenai sejarah’.
.
4. Durasi
Durasi berkaitan dengan
masalah panjang pendeknya
atau lama singkatnya suatu
suatu bunyi di ucapkan.
Tanda untuk bunyi panjang
yaitu titik dua pada sebelah
kanan kanan bunyi yang
diucapkan(...:) atau tanda
garis kecil diatas bunyi
segmental yang diucapkan
( - ). Dalah bahasa indonesia
durasi ini tidak barsifat
fonemis, tidak dapat
membedakanm makna kata.
Jumat, 11 Juli 2014
Fonologi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar