Rabu, 10 Juni 2015

Analisis ayat alquran menggunakan teori implikatur pragmatik

ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA
3.1 Fragmen Yusuf Bermimpi
Pada fragmen ini, Yusuf berkata kepada ayahnya, (1) يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; ku lihat semuanya sujud kepadaku”. Ayahnya menjawab, (2) يَا بُنَيَّ لا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar (untuk membinasakan) kamu”.

Penggunaan tuturan pada fragmen ini (1) mengindikasikan atau dimaksudkan untuk memberitahukan perihal mimpi yang dialami Yusuf. Pesan yang ingin disampaikan dalam tuturan (1) adalah menginformasikan mimpi yang dialami Yusuf kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menangkap pesan tersebut dengan mengatakan sebagaimana pada tuturan (2) yang melarangnya untuk menceritakan kepada saudara-saudaranya. Larangan untuk menceritakan mimpi Yusuf tersebut menunjukkan adanya sebuah rahasia yang disembunyikan. Hal ini diperkuat dengan penggunaan bentuk tuturan janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu yang memiliki daya sebagai larangan untuk tidak melakukan suatu yang dimaksud.

Penggunaan bentuk seperti ini juga mengindikasikan bahwa pengirim pesan ingin mengkomunikasikan dan memberikan stimulus kepada lawan tuturnya supaya bertanya dan mengajak berimajinasi kemungkinan yang terjadi setelahnya. Pertanyaan awal yang muncul adalah apa hubungan mimpi Yusuf dengan larangan oleh ayahnya supaya tidak menceritakan kepada saudara-saudaranya. Satu kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa tampilan kisah seperti di atas dapat berdampak pada audien untuk semakin tertarik mengikuti alur cerita kisah Nabi Yusuf. Di sini dapat dilihat bahwa, fungsi tuturan dalam fragmen di atas memiliki dua fungsi secara bersamaan, yaitu fungsi bahasa dan fungsi psikologis untuk menarik minat audien.

3.2 Fragmen Cemburu Terhadap Yusuf
Pada fragmen ini, saudara-saudara Yusuf berkata (3) لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat)”. Pada akhir tuturan tersebut, saudara-saudara Yusuf menganggap diri mereka sebagai usbah (golongan yang kuat). Tuturan (3) di atas memiliki pesan bahwa saudara-saudara Yusuf cemburu terhadap Yusuf dan Bunyamin. Kecemburuan ini berawal dari anggapan bahwa mereka saudara-saudara Yusuf adalah kelompok yang memiliki fisik kuat, sehingga dapat memberi manfaat kepada keluarga. Untuk itulah, semestinya merekalah yang lebih layak mendapatkan kasih sayang dari Ya’qub.

Dari keterangan di atas, nampak kesombongan yang dimiliki oleh saudara-saudara Yusuf. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan saudara-saudara Yusuf yang mengatakan (4) إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ “Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata”. Tuturan (4) ini memiliki makna yang mengacu pada persepsi negatif saudara-saudara Yusuf terhadap ayah mereka sendiri, yaitu Ya’qub. Persepsi negatif ini berbanding terbalik dengan dengan mereka sendiri. Hal ini dibuktikan dengan tidak kuasanya saudara-saudara Yusuf menjaga Yusuf dan Bunyamin.

Bentuk ilokusi di atas bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada audien yang secara semantis memiliki makna Ya’qub dalam kekeliruan yang nyata. Adapun secara pragmatis, tuturan (4) di atas memberikan pesan supaya Ya’qub tidak memberikan kasih sayang yang berlebihan kepada Yusuf dan Bunyamin. Tuturan itu juga dimaksudkan untuk supaya Ya’qub memberikan kasih sayangnya kepada saudara-saudara Yusuf, yang dalam anggapannya termasuk kelompok usbah yang lebih pantas mendapatkan kasih sayang.

Rasa iri dan cemburu saudara-saudara Yusuf direalisasikan dalam bentuk bahasa dengan menyebut dirinya sebagai ‘usbah. Kata ‘usbah berarti satu golongan. Dalam QS. Yusuf, kedua kata ini digunakan sebanyak dua kali. Pertama, ketika saudara-saudara Yusuf merasa iri dan cemburu terhadap Yusuf dan Benyamin serta menganggap ayahnya, Ya’qub pilih kasih (QS. Yusuf: 8). Kedua, ketika saudara-saudara Yusuf mengajak Yusuf pergi, sementara Ya’qub khawatir Yusuf akan dimangsa serigala. Kata ‘usbah yang pertama digunakan karena saudara-saudara Yusuf adalah yang paling berhak mendapatkan kasih sayang dari Ya’qub, sedangkan kata ‘usbah yang kedua digunakan untuk menyakinkan Ya’qub, bahwa Yusuf tidak akan dimangsa serigala (QS. Yusuf: 14)

3.3 Fragmen Yusuf Dijual
Fragmen ini menceritakan Yusuf dijual kepada orang Mesir. Peristiwa dan konteks tuturan (5) وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ “dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf” dan tuturan (6) وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا “dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”.

Pada tuturan (5) Yusuf dijual dengan harga murah. Tuturan ini memberikan informasi bahwa meskipun Yusuf adalah seorang anak yang tampan, yang semestinya dihargai mahal atau disamakan dengan barang-barang yang bernilai tinggi. Di sini, dalam tuturan (5) mengindikasikan adanya nilai tambah yang dikurangi atau dimurahkan pada diri Yusuf yang notabene disamakan dengan barang mulia atau barang bernilai tinggi.

Pada tuturan (6) boleh jadi dia bermanfaat kepada kita secara semantis bermakna harapan supaya Yusuf memberikan kemanfaatan bagi yang membelinya. Kemanfaatan itu dapat berupa tenaga dan kemampuan yang dimiliki Yusuf untuk membantu mengurangi beban pekerjaan. Secara pragmatis, tuturan ini memberi pesan bahwa apa yang dibelinya, yaitu Yusuf tidak akan sia-sia, sehingga isterinya diharapkan menyetujui pembelian Yusuf. Pesan ini semakin dipertegas dengan tuturan atau kita pungut dia sebagai anak. Dalam konteks kisah tersebut, suami isteri yang membeli Yusuf adalah keluarga yang belum memiliki seorang anak dikarenakan suaminya mandul.

3.4 Fragmen Yusuf dan Imra’ah Azizah
Setelah Yusuf dewasa, Zulaikha, istri dari tuan yang membeli Yusuf kecil dan yang mengangkat Yusuf sebagai anaknya merasa tertarik, terpesona dan jatuh cinta kepada Yusuf dewasa. Zulaikha mengajak dan menggoda Yusuf supaya mau diajak bermesum, (7) وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ “dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”.

Tuturan (7) rawadathu ‘menggoda untuk menundukkan’ menunjukkan pelaku adalah imra’ah azizah atau Zulaikha, sedangkan objek pelaku adalah Yusuf. Kata rawada berasal dari kata rada yang berarti upaya meminta sesuatu dengan lemah lembut agar apa yang diharapkan dapat diperoleh (Quraish, 2002: 425). Sementara itu, pelaku sebagai seorang perempuan dengan objek laki-laki dewasa yang baru saja sampai pada usia kematangan menunjukkan bahwa upaya tersebut berwujud rayuan atau godaan. Hal ini juga diperkuat dengan frase ‘an nafsihi yang mengacu pada klausa di atas, sehingga memiliki arti untuk menundukkan Yusuf (Salih, 1998: 287).

Perasaan cinta atau emosi senang Zulaikha terhadap Yusuf diwujudkan dalam bentuk tindakan, yakni wa gallaqat al-abwab ‘menutup semua pintu’ (QS. Yusuf: 23). Tuturan ini merupakan bentuk ekpresi emosi cinta Zulaikha terhadap Yusuf yang ingin berbuat mesum dengan Yusuf dan agar tindakan mesum tersebut tidak diketahui oleh orang lain. Selain itu, menutup pintu juga dapat berarti menutup aib yang diakibatkan oleh perbutan mesum yang akan dilakukan oleh Yusuf dan Zulaikha. Pada fragmen ini, peristiwa tuturan antara Yusuf dan seorang wanita terjadi dalam konteks di dalam sebuah rumah yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja. Zulaikha yang sudah tertarik dan jatuh cinta kepada Yusuf tidak ragu mengajak Yusuf untuk melayani nafsunya dengan menutup pintu dan berkata, marilah ke sini.

Yusuf yang telah dikaruniai kenabian hanya membalas dengan tuturan Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Tuturan ini memiliki maksud atau tujuan yang ingin dikomunikasikan adalah penolakan terhadap ajakan tersebut. Selain itu tuturan ini juga memberi maksud bahwa suaminya telah berbuat baik kepada Yusuf sehingga Yusuf merasa tidak pantas berlaku di luar sepengatahuan tuannya atau suami Zulaikha. Secara semantis tuturan tersebut bermakna memohon perlindungan kepada Allah.

3.5 Fragmen Yusuf Menjadi Bendahara Negara
Fragmen ini menceritakan Yusuf diangkat menjadi seorang bendahara kerajaan. Raja berkata, (8) إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” Yusuf menjawab, (9) اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Secara semantis, tuturan (8) memiliki makna atau maksud tuturan sebagai pengakuan terhadap Yusuf sebagai seorang yang berkedudukan tinggi dan dapat dipercaya. Adapun secara pragmatis, tuturan (8) memiliki pesan supaya Yusuf bersedia diangkat menjadi pejabat kerajaan. Selain itu tuturan ini juga memiliki maksud bahwa mulai sekarang-hari ini, Yusuf diangkat sebagai pejabat kerajaan.
Yusuf yang jenius dan pintar langsung menangkap pesan yang disampaikan raja, dengan menjawab, jadikanlah aku bendaharawan negara. Tuturan (9) memberi pesan bahwa Yusuf sadar betul dengan apa yang disampaikan oleh rajanya sehingga tanpa ragu dan malu Yusuf menyampaikan kenginannya untuk menjadi seorang bendahara kerajaan. Keinginan tersebut diperkuat juga dengan tuturan Yusuf yang menyatakan sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.

Jumat, 11 Juli 2014

Fonologi


BAB II
ISI
1. Tekanan
Tekanan atau stres
menyangkut masalah keras
lemah nya bunyi.
Suatu bunyi segmental
yang diucapkan dengan arus
udara yang kuat sehingga
menyebabkan amplitudonya
menyebar, pasti diberangi
dengan tekanan keras.
Sebaliknya,sebuah bunyi
segmental yang diucapkan
dengan arus udara yang tidak
kuat, sehingga amplitudonya
menyempit pasti di seberangi
dengan tekanan lunak.
Tekanan ini mungkin
terjadi secara sporadis;
migkin juga telah
berpola,mungkin juga
bersifat disningtif artinya
dapat membedakan makna
tapi juga bisa tidak. Dalam
bahasa indonesia tekanan
dapat membedakan makna.
2. Nada
Nada atau pitch berkenaan
dangan tinggi rendahnya
suatu bunyi. Bila suatu bunyi
segmental diucapkan dengan
frekuensi getaran yang tinggi,
tentu akan disertai nada yang
tingggi
.Sebaliknya,bila suatu
bunyi segmental diucapkan
dengan frekuensi getaran
yang rendah, maka nada
yang menyertanya akan
rendah.
Dalam bahasa tradisional
Thai dan bahasa Vietnam
nada bersifat fonemis,
artinya dapat membedakan
makna kata. Dalam bahasa
Tonal,biasanya dikenal ada
lima macam nada, yaitu:
a) Nada naik atau
nada meninggi yang
biasanya diberi tanda
garis ke atas ( )
b) Nada datar yang
biasanya diberi tanda
garis lurus mendatar ( ͞
).
c) Nada turun atau
merendah yang
biasanya diberi tanda
garis menurun ( ).
d) Nada turun naik
yakni nada yang
merendah lalu
meninggi. Biasanya
diberi tanda garis
sebagai (۷ ).
e)      Nada naik turun
yaitu nada yang
biasanya meninggi
lalu merendah
biasanya diberi tanda
garis (۸ ).
2
Sama dengan tekanan,dalam bahasa
indonesia nada juga tidak
“bekerja”pada tingkat sintaksis, karena
dapat membedakan makna kalimat.
Variasi nada yang mfnyertai
unsur segmental dalam kalimat disebut
intonasi, yang biasanya dibedakan
menjadi empat yaitu:
a) Nada rendah, di tandai
dengan angka 1
b) Nada sedang, ditandai
dengan angka 2
c) Nada tinggi, ditandai
dengan angka 4
3. Jeda atau Persendian
Jeda atau perhentian
berkenaan dengan hentian
bunyi arus dalam arus
ujaran. Disebut jeda karena
adanya perhentian itu, diebut
persendian karena di tempat
perhentian itulah terjadinya
sambungan antara dua
segmen ujaran.
Jeda ini dapat bersifat
penuh atau bersifat
sementara, buiasanya
dibedakan adanya sendi
dalam( internal juncture ) dan
senda luar (open juncture).
Sendi dalam menunjukan
batas antara atu silabel
dengan silabel lainnya.
Silabel dalam ini menjasi
batas silabel biasanya
ditansai sengan tanda (+).
Contoh:
[am+bil]
[lak+sa+na]
[ke+le+la+war]
Sendi luar menunjuklan
batas yang lebih besar dari
silabel.Dalam hal ini
biasanya dibedakan adanya:
a.       Jeda antar kata
dalam frase,ditandai
dengan garis miring
tunggal ( / )
b. Jeda antarfrase
dalam klausa,ditandai
dengan garis miring
ganda ( // )
c. Jeda antarkalimat
dalam wacana/
paragraf,ditandai
dengan garis silang
ganda ( # )
3
Tekanan dan jeda dalam
bahasa indonesia sangat
penting karena tekanan
dan jeda itu dapat merbah
makna kalimat. Contoh:
#buku//sejarah/
baru#
#buku/sejarah//
baru#
Kalimat pertama
bermakna ‘buku
mengenai sejarah
buku’;sedangkan kalimat
kedua bermakna ‘buku
baru mengenai sejarah’.
.
4. Durasi
Durasi berkaitan dengan
masalah panjang pendeknya
atau lama singkatnya suatu
suatu bunyi di ucapkan.
Tanda untuk bunyi panjang
yaitu titik dua pada sebelah
kanan kanan bunyi yang
diucapkan(...:) atau tanda
garis kecil diatas bunyi
segmental yang diucapkan
( - ). Dalah bahasa indonesia
durasi ini tidak barsifat
fonemis, tidak dapat
membedakanm makna kata.

Rabu, 04 Juni 2014

Mencari sifat kepemimpinan yang tenggelam

Kamu pasti merasa yidak nyaman jika ada sebuah hal yang tertinggal dan biasanya selalu melekat denganmu..
Saat ini aq sedang merasakan hal tsb ketika dahulu aq mempunyai sifat kepim nan dalam organisasi cukup berhasil,,,  dan sekarang aq mencari difat dan jati diri itu,,,  apakah mungkin karena niat dlu aq unntuk tenggelam dalam hal organisasi dan sementara waktu fokus terhadap ipk yang menjadi target aq saat ini...
Untuk kalian yg tau caranya yolong share yh